Bagi kebanyakan orang Indonesia basa-basi adalah sebuah keharusan atau setidaknya sebuah hal yang lumrah sebelum masuk ke pokok pembicaraan. Semacam pemanasan lah sebelum berolah raga. Namun, ternyata tak semua orang suka. Suatu siang di desa pada tahun 70’an seorang kakek berusia 70’an tahun mengendarai sepeda pulang dari pasar menuju rumah. Apesnya, di tengah jalan ban sepedanya kempes. Terpaksalah sang kakek menuntun sepedanya sejauh 7km menuju tambal ban terdekat. Mana udara sedang panas-panasnya lagi. Peluh si kakekpun mulai bercucuran. Sekilo demi sekilo jalan dilalui. Si kakek pun mulai kelelahan. Kemudian tanpa sengaja berjumpa dengan tetangga yang sedang berjalan. Sebagai orang yang memiliki sopan santun, si tetangga berbasa-basi menyapa sang kakek.
“Wah kek, kok dituntun sepedanya?”
Eee..bukannya mendapat jawaban yang ramah seperti “Iya niy ban sepeda bocor”, malah dapat jawaban sewot dari si kakek: “Ya iyalah dituntun, masa mau digendong, berat tau!”.
PS: hehehe…makanya klo ada orang lagi susah itu dibantuin, bukannya ditanya-tanya.



1 comments:
hehehe...c apih ada2 aja :D tp kdg2 cewe mah seneng di tanya2 n tergantung kultur jg, klo org sunda seneng basa-basi, ga to the point :D
Post a Comment