Friday, February 24, 2012

Ayahku (Bukan) Pembohong by Tere-Liye



Buku ini bercerita tentang seorang anak (Dam) yang dibesarkan dengan cerita-cerita (Sang Kapten, Apel Emas, Suku Penguasa Angin, dll) yang menakjubkan dan inspiratif oleh ayahnya. Ibunya adalah seorang wanita cantik tapi sakit-sakitan. Mereka sekeluarga hidup amat sederhana. Sayangnya sang ibu meninggal ketika Dam masih sekolah dan ia merasa sangat kehilangan. Ketika Dam semakin besar, ia berfikir bahwa cerita ayahnya hanyalah cerita atau dongeng belaka alias tak ada dalam dunia nyata. Dam memutuskan untuk membesarkan anak-anaknya (Zas dan Qon) tidak dengan cerita-cerita seperti ayahnya dulu. Ia sangat marah ketika mengetahui ayahnya mengulang cerita-cerita dongeng itu kepada Zas dan Qon, sampai-sampai mengusir ayahnya yang sudah tua. Sang ayah kemudian jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit ketika pingsan. Saat sudah siuman, sang ayah menyampaikan cerita terakhirnya. Cerita yang sama pernah disampaikan kepada ibunya hingga ibunya merasa bahagia walaupun hidup amat sederhana dan sakit-sakitan:
“Dalam salah satu perjalanan jauh yang pernah Ayah lakukan, Ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tahu apa itu sufi? Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, di antara banyak sufi, tidak semuanya berhasil mencapai pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar tentang kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa tujuan dan makna hidup, ada pula yang berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagiaan hidup.
“Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup ini seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Tidak ada di antara sekelompok sudi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Mereka menggeleng, hingga akhirnya salah seorang dari mereka menyarankan Ayah berangkat ke salah satu lereng gunung. Di sana tinggal salah satu sufi besar, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengemas ransel, berangkat siang itu juga.
“Ayah menemui sang Guru. Dia menerima Ayah dengan ramah, member Ayah kesempatan bertanya. Pertanyaan Ayah hanya satu, Dam. Apakah hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru terdiam lama, menggeleng, berkata bahwa Ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di dunia yang bisa menjawabnya. Ayah mendesah kecewa, ke mana lagi harus mencari tahu. Sang Guru menatap Ayah lamat-lamat, berpikir sejenak. Seberapa tangguh Ayah berusaha mencari tahu? Ayah berkata mantap, apapun akan Ayah lakukan.
“Sang Guru tersenyum. Dia memberikan penjelasan teraneh yang pernah Ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan itu. Perkampungan itu butuh sumber mata air berupa danau. Sang Guru menyuruh Ayah membuatkan danau di tanah luas itu. Astaga, Dam, benar-benar sebuah danau. Itu bukan pekerjaan mudah.” Ayah tertawa pelan, membuat napasnya sedikit tersengal.
“Sang Guru bilang ‘Ketika kau berhasil membuat sebuah danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat sejati kebahagiaan. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang. Aku akan melihat apakah danau itu sudah sebening air mata.’
“Walau tidak punya ide apapun soal danau itu, Ayah mengangguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperoleh dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat, memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.
“Kau tahu, Dam, tidak berbilang tanah yang harus Ayah pindahkan. Berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah baru berhenti saat galian itu memiliki kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan Ayah baru separuh selesai. Ayah kemudian membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkan ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang. Tidak lama lagi jawaban pertanyaan itu akan datang. Lihatlah, danau yang Ayah buat sebening air mata.
“Sesuai janji, sang Guru datang menjenguk Ayah pada hari yang ditentukan. Sialnya, malam sebelum dia datang, hujan turun. Sumber mata air di hutan menjadi kotor. Ayah yang semangat mengajak sang Guru ke tepi danau mendesah kecewa. Lihat, danau yang Ayah buat jauh dari bening, berubah keruh. Sang Guru menepuk bahu Ayah. Sang Guru berkata, Ayah tidak boleh putus asa. Tahun depan sang Guru akan kembali.
“Setelah memikirkan jalan keluarnya, Ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.
“Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk Ayah. Lihat, danau buatan Ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan Ayah. Sang Guru menggeleng. Dia meraih sepotong bambu panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru, mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar saja, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengeluarkan kepul lumar kecoklatan. Dalam sekejap, danau bening itu musnah. Sang Guru menepuk-nepuk bahu Ayah lalu berkata, ‘Kaupikirkan lagi, tahun depan aku akan kembali.’”
Ayah diam sejenak, menarik napas pelan.
“Kau tahu, Dam. Ayah seperti dipermainkan. Apa lagi yang kurang dari danau Ayah? Dua tahun sia-sia. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkin hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahun berlalu, Ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanah, kedalaman danau sudah sepuluh meter. Sang Guru datang, melihat dengan takzim Ayah yang sibuk bekerja. Dua tahun berlalu, Ayah masih berkutat mengeduk tanah. Tiga tahun berlalu, setelah kerja keras siang-malam, akhirnya Ayah berhasil menyentuh dasar bebatuan. Air keluar deras dari sela-sela batunya. Ayah tertawa senang. Semua parit Ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airnya sendiri.
“Guru datang pada hari yang dijanjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai Kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit bocor dan sejenak membuat keruh. Sang Guru menatap Ayah, bertanya apakah Ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng. Hari itu Ayah sudah tahu jawabannya, Dam. Setelah lima tahun bekerja keras, hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, Ayah tahu jawabannya.
“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.
“Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.
“Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.

Thursday, February 23, 2012

Menyebarkan Berita

Sebelum kita menyebarkan sebuah berita, alangkah baiknya jika kita mengecek terlebih dahulu 3 hal berikut:
1. Apakah berita yang kita sebarkan itu benar adanya?
2. Apakah berita yang kita sebarkan mengandung kebaikan?
3. Apakah berita yang kita sebarkan ada manfaatnya bagi yang mendengarkan?

Tuesday, February 21, 2012

Ilmu, Amal, dan Ikhlas

Semua kalian akan merugi, kecuali sedikit yang mau menuntut ilmu. Semua yang berilmu akan merugi, kecuali sedikit yang bisa mengamalkannya. Semua yang beramal-pun akan merugi, kecuali sedikit yang ikhlas….

(Yusuf Qardhawi)

Sunday, February 19, 2012

Ahli Komputer dan Insinyur

Suatu ketika di sebuah penerbangan Jakarta - LA, ada seorang ahli komputer dan insinyur yang duduk bersebelahan. Karena penerbangan yang cukup panjang, si ahli komputer pun didera kebosanan, kemudian mencoba beramah - tamah dengan si insiyur;

A: Profesi Bapak apa?
I : saya insinyur
A: oo...saya seorang programmer

Si insinyur tidak berminat menanggapi si ahli komputer karna dia merasa mengantuk dan ingin tidur sepanjang perjalanan itu. Namun si ahli komputer tidak menyerah begitu saja

A: Pak, bagaimana kalo kita bermain tebak-tebakan?
I: Maaf saya mengantuk...
A: Gini deh kalo saya ngga bisa jawab pertanyaan Bapak, saya bayar $5, kalo Bapak yang nggak bisa jawab, Bapak yang harus bayar ke saya $5. gimana?
I: Maaf, saya ngga berminat
A: ok2, saya ubah penawarannya. Kalau Bapak ngga bisa jawab pertanyaan saya, Bapak bayar $5 saja. Tapi, kalo saya yang ngga bisa jawab, saya bayar $100 pada Bapak. Setuju?

Karena merasa sangat terganggu dengan si ahli computer akhirnya si insiyur menyetujui tawaran itu, dengan tujuan agar si ahli komputer itu tidak mengganggunya lagi setelah itu.

I: ok. Silakan saja dimulai.
A: ok. Siapa penemu microchip yang pertama di dunia?

Si insinyur pun segera mengangsurkan uang $5 pada si ahli computer tanpa pikir panjang. Si ahli komputer pun kegirangan.

A: ok. Sekarang giliran Bapak bertanya.
I: ok. Ketika naik gunung dia berkaki tiga, ketika turun gunung dia berkaki empat. Apakah itu?
A: hah??

Si ahli komputer pun kebingungan, karna tidak ingin kehilangan uang $100, dia pun segera mencari jawaban kesana kemari. Dia bertanya pada seisi pesawat, tapi tidak ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Akhirnya setelah 1.5 jam, si ahli komputer akhirnya menyerah dan membangunkan si insinyur yang sudah pulas.

A: Pak, saya  menyerah. Ini $100 nya.
I: terima kasih yaaa
A: tapi Pak, saya penasaran. Memangnya "Ketika naik gunung dia berkaki tiga, ketika turun gunung dia berkaki empat" itu apa?

Si insinyur pun segera memberikan $5 pada si ahli komputer dan kembali tidur.

Sunday, February 12, 2012

Belajar dari Kemenangan / Kekalahan

Kita hanya mendapatkan sedikit pelajaran dari Kemenangan, tapi kita belajar banyak dari Kekalahan

Friday, January 20, 2012

Matematika Gaji VS Sedekah

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik, dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapa pun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan, Mas?" kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sekarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis," jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis," saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran do'a keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orangtua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapa pun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orangtua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya, dan sejagat haru biru perasaannya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis dengan dimensi sedekah itu?"

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qana'ah, ridha, dan syukur".

Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan.

Ya Allah, saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Penulis : Abdallah

Thursday, January 19, 2012

Kambing

Bunali ketemu Wonokairun yang sedang menggembala kambing.
"Kek, wah kambingnya banyak ya?" tanya Bunali
"Ya lumayan" kata Kakek
"Ada berapa semuanya, Kek?" tanya Bunali lagi
"Yang putih apa yang hitam?"
"Yang putih lah"
"Dua puluh lima"
"Wah banyak banget ya. Lha kalo yang hitam?"
"Sama.." kata Wonokairun sambil menyabit rumput.
Bunali bertanya lagi.
"Makan rumputnya juga banyak ya, Mbah?."
"Iya.."
"Berapa kilo makannya sehari?"
"Yang putih apa yang hitam?"
"Yang hitam lah"
"Ya kira-kira lima kilo-an"
"Lha kalo yang putih?"
"Sama.."
Bunali bingung, kenapa kalo ditanya kok harus membedakan yang putih atau yang hitam, padahal jawabannya sama aja.
"Mbah, kenapa kalo saya tanya tentang kambingmu harus bedain yang putih atau hitam segala. Padahal walaupun putih ataupun hitam, jawabanmu sama terus. Sebenarnya ada apa?"
"Gini lho, yang putih itu kambingku.."
"Lha yang hitam?"
"Sama.."

Sunday, January 15, 2012

Kue Pernikahan


Bahan :
1 lelaki sehat,
1 perempuan sehat,
100% komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

Bumbu :
1 potong besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sdt saling menelepon,
5 kali ibadah/hari
(Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang).

Cara Memasak :
  1. Laki-laki dan perempuan dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
  2. Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
  3. Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit di depan penghulu.
  4. Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.
  5. Kue siap dinikmati.

Tips memasak :
  1. Pilih lelaki dan perempuan yang benar-benar matang dan seimbang.
  2. Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
  3. Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
  4. Gunakan Kasih sayang cap "DAKWAH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

Catatan :
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek "Tempat Ibadah". Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.
Selamat mencoba, dijamin semuanya halal kok!

Friday, January 13, 2012

Kebahagiaan

Banyak yang mengira dengan menumpuk kekayaan dan menguasai yang lain, mereka bisa bahagia. Sebenarnya itu adalah kualitas buruk dalam diri dan hasilnya adalah masalah bagi diri sendiri.

Meski begitu, bukanlah berarti kekayaan dan kekuasaan adalah hal tabu, tetapi kebahagiaan tak bisa disandarkan pada apapun yang bersifat material, apapun wujudnya.

Kebahagiaan ditemukan secara perlahan seiring peningkatan kualitas baik di dalam diri, seperti kesabaran, pengertian, penghargaan, cinta, welas asih, dan meminimalkan faktor mental yang mengganggu, termasuk kecemburuan, iri hati, dan ketidakpedulian. Latihannya seumur hidup. Tingkat pencapaiannya berbeda-beda tergantung seberapa besar kehendak melakukannya.

Kebahagiaan dipahami bersamaan dengan pemahaman mengenai akar penderitaan, yaitu “ego” atau pandangan keliru tentang diri. Adalah suatu keutamaan kalau mau terus berlatih memahami nir-ego.

Berbuat bajik dan melakukan hal-hal yang memberi manfaat bagi semua makhluk hidup adalah jalan menuju kebahagiaan. Mari meningkatkan sikap dan tingkah laku lebih menghargai, lebih mencintai, dan lebih welas asih terhadap sesama dan semua makhluk hidup.

(Dagpo Rinpoche)

Thursday, January 12, 2012

Pencapaian

Bayangkan 10 tahun setelah Anda tak lagi main. Anda mengenang-ngenang, melihat di sekeliling, Anda tak ada dalam foto, tak punya medali, tak punya piala. Sepertinya Anda bermain tidak demi apa-apa.

Kita boleh saja memiliki mobil yang luar biasa, rumah yang fantastis, tapi apa gunanya? Tidak ada pemain yang melihat ke belakang dan berkata, "Aku memenangi uang lebih banyak"

(Fernando Torres)

Wednesday, January 11, 2012

Basa-Basi

Bagi kebanyakan orang Indonesia basa-basi adalah sebuah keharusan atau setidaknya sebuah hal yang lumrah sebelum masuk ke pokok pembicaraan. Semacam pemanasan lah sebelum berolah raga. Namun, ternyata tak semua orang suka. Suatu siang di desa pada tahun 70’an seorang kakek berusia 70’an tahun mengendarai sepeda pulang dari pasar menuju rumah. Apesnya, di tengah jalan ban sepedanya kempes. Terpaksalah sang kakek menuntun sepedanya sejauh 7km menuju tambal ban terdekat. Mana udara sedang panas-panasnya lagi. Peluh si kakekpun mulai bercucuran. Sekilo demi sekilo jalan dilalui. Si kakek pun mulai kelelahan. Kemudian tanpa sengaja berjumpa dengan tetangga yang sedang berjalan. Sebagai orang yang memiliki sopan santun, si tetangga berbasa-basi menyapa sang kakek.
“Wah kek, kok dituntun sepedanya?”
Eee..bukannya mendapat jawaban yang ramah seperti “Iya niy ban sepeda bocor”, malah dapat jawaban sewot dari si kakek: “Ya iyalah dituntun, masa mau digendong, berat tau!”.
PS: hehehe…makanya klo ada orang lagi susah itu dibantuin, bukannya ditanya-tanya.

Tuesday, January 10, 2012

Personal Power by Dr. Ibrahim Elfiky


   Beberapa ratus tahun silam, angkatan bersenjata Birma hendak menyerang Thailand di Cina. Menyadari negerinya akan diserang, para biksu Siam melindungi patung Buddha Emas. Mereka melapisinya dengan tanah lempung agar harta paling berharga mereka itu terjaga dari para penyerang. Sialnya, pasukan Birma membunuh semua biksu yang ada. Rahasia mengenai Buddha Emas itu pun lenyap bersama mereka.
   Suatu hari pada 1957, para biksu dari biara memindahkan patung Buddha berlapis tanah lempung itu dari kuil mereka ke suatu tempat yang baru. Biara yang lama sedang direlokasi untuk memberi ruang bagi pembangunan sebuah jalan besar yang akan melewati Bangkok. Bobot patung raksasa itu begitu berat sehingga ketika hendak diangkat derek, patung itu mulai retak. Keadaan kian runyam karena hujan mulai turun. Tidak ingin merusak patung suci itu, biksu kepala memutuskan untuk mengembalikannya ke tempat semula agar terlindung dari hujan.
   Pada malam harinya, biksu kepala memeriksa patung Buddha untuk memastikan bahwa keadaannya tetap kering. Ketika cahaya lampu senternya menyorot ke sebuah retakan pada tanah lempung itu, ia melihat seberkas sinar kecil berkilau. ‘Wah, ini janggal,’ pikirnya. Ia mendekati kilau sinar itu dan bertanya-tanya, mungkinkah ada sesuatu di balik tanah lempung ini. Ia pun pergi mengambil pahat dan martil dari biara dan mulai menatah lapisan tanah lempung tersebut. Begitu ia mulai menjatuhkan keping demi keping tanah lempung itu, sinar kecil tadi semakin terang dan besar. Setelah menatahnya beberapa jam, sang biksu kini berdiri berhadap-hadapan dengan patung Buddha terbuat dari emas yang solid.
   Patung Buddha Emas yang amat berharga itu tersembunyi selama berabad-abad, terbungkus tanah lempung sampai seseorang secara tidak sengaja menemukannya.
   Buddha Emas itu adalah seperti halnya Anda dan saya, juga setiap manusia. Dalam diri kita ada raksasa emas sangat hebat yang menunggu untuk dapat bersinar terang.

Petikan cerita di atas adalah salah satu cerita dari banyak cerita yang paling saya suka dan memberikan inspirasi dari buku yang hebat ini. Secara garis besar, ada 7 Rahasia Kekuatan Pribadi yang dipaparkan:
  1. Kekuatan Kesadaran. Bagian ini mengajak kita untuk menyelami diri dan menyadari di mana posisi kita dalam 5 dimensi hidup seimbang. Bagaimana kehidupan spiritual kita, kesehatan kita, kehidupan pribadi kita, pekerjaan kita, dan kondisi finansial kita.
  2. Kekuatan Tujuan. Bagian ini mengajak kita memikirkan impian-impian yang ingin kita capai, apakah kita memiliki harapan untuk hidup sesuai dengan impian kita, seberapa besar hasrat kita untuk mencapai impian, dan seberapa yakin kita akan mampu mewujudakn impian tersebut
  3. Kekuatan Keyakinan. Kekuatan keyakinan bertumpu pada keyakinan kepada Tuhan, keyakinan kepada Diri Sendiri, dan keyakinan kepada Orang Lain.
  4. Kekuatan Cinta. Kekuatan cinta terdiri dari tiga komponen: Memaafkan, Mencintai, dan Memberi.
  5. Kekuatan Energi Positif. Bagian ini mengajak kita untuk mengenali pusat energi kita sendiri, memahami kapan dan bagaimana energi meninggalkan tubuh kita, dan apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar energi kita tetap seimbang.
  6. Kekuatan Konsentrasi. Quote yang yang benar-benar mewakili bagian ini adalah “Apa pun yang Anda konsentrasikan akan menentukan takdir Anda. Berlaku bijaklah dan konsentrasikan energi Anda pada hasrat-hasrat terbesar hidup Anda”.
  7. Kekuatan Keputusan. Dalam bagian ini dipaparkan tiga hal yang dapat menjadi dorongan kuat bagi sesorang untuk membuat keputusan besar, yaitu kekuatan dorongan karena Frustrasi, kekuatan dorongan Inspirasi, dan kekuatan dorongan akibat Ketakutan.
Quote yang selalu ditekankan untuk diingat oleh pembaca pada akhir setiap bab oleh Dr. Ibrahim adalah:
  • Mimpikan impian-impian besar
  • Hiduplah dengan memiliki tujuan
  • Hiduplah dengan keyakinan
  • Dan Hiduplah dengan kekuatan

Monday, January 9, 2012

Kesulitan dan Kemudahan

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

(Al-Quran 94 : 5-6)

Sunday, January 8, 2012

Pulau di Indonesia


Indonesia adalah negara kepulauan. Menurut wikipedia yang bersumber pada data Departemen Dalam Negeri RI tahun 2004, Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 7.870 diantaranya sudah diberi nama dan sisanya belum ada namanya. Dari puluhan ribu pulau tersebut, ada lima pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. 

Tapi, tahukah Anda bahwa ada sebuah pulau yang memiliki ciri khas, yaitu pulau tersebut memiliki bau yang paling semerbak diantara pulau-pulau lainnya? Ya, pulau itu bernama Pulau Jigong..letaknya ada di bantal dan baunya sangat menyengat sampai ke ubun-ubun :D

 
Copyright 2009 Pelangi